Pondok Pesantren Lirboyo didirikan pada tahun 1910 di Kediri oleh KH Abdul Karim atas prakarsa mertuanya, KH Sholeh, untuk mengubah desa yang saat itu dikenal angker menjadi pusat pendidikan Islam yang aman dan religius. Pesantren ini berawal dari surau sederhana dan terus berkembang hingga menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan berkontribusi besar bagi Nahdlatul Ulama (NU).
Sejarah singkat Pondok Pesantren Lirboyo
- Awal pendirian (1910):KH Abdul Karim, ulama asal Magelang, pindah ke Desa Lirboyo Kediri atas dorongan mertuanya, KH Sholeh, yang berharap ada pendidikan agama yang dapat mengubah desa menjadi lebih baik.
- Awalnya, pesantren hanya sebuah surau sederhana, namun jumlah santri bertambah dengan cepat.
- Santri pertama adalah Umar dari Madiun.
- Perkembangan awal:Pada tahun 1913, KH Abdul Karim membangun masjid di area pesantren yang kini dikenal sebagai Masjid Lawang Songo.
- Sistem pendidikan awalnya menggunakan sorogan dan bandongan (metode tradisional), tetapi mulai mengadopsi sistem klasikal pada tahun 1925 dengan mendirikan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.
- Peran dalam perjuangan kemerdekaan:Pesantren Lirboyo aktif terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dengan mengirim santri untuk melawan penjajah Jepang dan terlibat dalam pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945.
- Santri Lirboyo juga ikut serta dalam Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh KH Hasyim Asy'ari.
- Perkembangan modern:Seiring waktu, pesantren Lirboyo berkembang pesat menjadi salah satu pusat studi Islam terbesar di Indonesia dan melahirkan banyak tokoh penting.
- Saat ini, pesantren ini menggabungkan pendidikan tradisional (salaf) dengan sistem pendidikan formal (klasikal) yang terus disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Profil Pondok Lirboyo
Pondok Lirboyo didirikan pada tahun 1910 M. oleh
KH. Abdul Karim, seorang alim dari
Magelang Jawa Tengah. Pada generasi kedua sepeninggal KH. Abdul Karim, Pondok Lirboyo dikembangkan oleh kedua menantunya, yakni
KH. Marzuqi Dahlan dan
KH. Mahrus Aly. Dan hingga saat ini Pondok Lirboyo telah sampai pada generasi ketiga dan telah berkembang dengan pesat, baik dalam segi sarana maupun prasarana sehingga dapat menunjang pendidikan para santri.
Pondok Lirboyo juga berorientasi pada pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, sambil mempertahankan nilai-nilai salafiyyah, dengan harapan bahwa para santrinya di masa mendatang dapat melestarikan perjuangan para ulama dalam mengembangkan syiar Islam dalam berbagai kondisi dan situasi.
Ekstrakurikuler Pondok Lirboyo
Kegiatan tersebut meliputi:
Pendidikan berjam’iyah/ berorganisasi (Jam’iyah Far’iyah, Kursus Seni Baca al Qur’an, Kursus Bahasa Arab, Kursus Bahasa Inggris, Kursus MC, Kursus Falak, Jam’iyah Wilayah, Jam’iyah Pusat/ Gabungan), Pendidikan Kursus Jurnalistik, Kursus Komputer, Kursus Kepribadian, Kursus Pidato, Dll.
Kursus Bahasa ArabLembaga Ittihadul Muballighin
Lembaga Ittihadul Adalah badan otonom Himasal dibawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo yang bergerak di bidang dakwah keagamaan yang mempunyai aktitas:
- Menyelenggarakan dakwah setiap malam Jum’at dan hari-hari besar Islam untuk memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat;
- Menyelenggarakan Safari Ramadan setiap tahun;
- Memfasilitasi permintaan tenaga pengajar dari luar Pondok Pesantren Lirboyo;
- Memfasilitasi permintaan kajian ilmiah tentang keagamaan dari sekolah-sekolah umum dan Organisasi Masyarakat.
Unit Pendidikan Pondok Lirboyo
- Madrasah Hidayatul Mubtadiin
- Tahfidzil Qur’an
- Tartilil Qur’an
- Pengajian Kitab-kitab Salaf
Sarana dan Fasilitas
Masjid, asrama Santri dengan jumlah 585 kamar, gedung sekolah yang memadahi berjumlah 245 ruang, perpustakaan yang representatif, laboratorium bahasa dan komputer, gedung auditorium al Muktamar dan Yayasan Hidayatul Mubtadiin, Rumah Sakit Umum Lirboyo, warung dan kantin, mini market, dapur umum, MCK, dan sanitasi.